Komunikasi persuasif
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Komunikasi persuasif adalah
komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap,
dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh komunikator .
Pada umumnya sikap-sikap individu/ kelompok yang
hendak dipengaruhi ini terdiri dari tiga komponen:
- Kognitif - perilaku dimana individu mencapai tingkat "tahu" pada objek yang diperkenalkan.
- Afektif - perilaku dimana individu mempunyai kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek.
- Konatif - perilaku yang sudah sampai tahap hingga individu melakukan sesuatu (perbuatan) terhadap objek.
Kepercayaan/ pengetahuan seseorang
tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya
memengaruhi perilaku dan tindakan mereka terhadap sesuatu. mengubah pengetahuan
seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka. Walaupun ada
kaitan antara kognitif, afektif, dan konatif - keterkaitan ini tidak selalu
berlaku lurus atau langsung.
Contoh : "Budi tahu/ percaya (kognitif) bahwa mobil Mercedes-Benz itu mobil
yang bagus. Budi juga senang (afektif) melihat bentuk mobil tersebut
saat melenggang di jalan. Tetapi Budi tidak akan membeli mobil Mercedes-Benz (konatif),
karena ia tidak punya uang."
Faktor-faktor yang memengaruhi
komunikasi persuasif agar berhasil
Banyak faktor menentukan
keberhasilan/ ketidak berhasilan suatu pesan yang bertujuan persuasif. Empat
faktor utama adalah sebagai berikut :
- Sumber pesan/ komunikator yang mempunyai kredibilitas yang tinggi; contohnya seseorang yang mempunyai pengetahuan tentang apa yang disampaikannya.
- Pesan itu sendiri (apakah masuk akal/ tidak)
- Pengaruh lingkungan
- Pengertian dan kesinambungan suatu pesan (apakah pesan tersebut diulang-ulang)
Namun faktor-faktor ini tidak berjalan secara
bertahap, pada banyak kasus faktor-faktor ini saling tumpang tindih.
Etika komunikasi persuasif
Komunikasi persuasif tidak sama dengan propaganda. Menurut
Prof. Richard L. Johannesen, Profesor Komunikasi dari Northen Illinois
University[2] untuk
membatasi agar komunikasi persuasif tidak menjadi propaganda maka ada
seperangkat etika yang harus dipatuhi.
Referensi
1.
^ (Inggris) Bruce Berger
Ph.D. Persuasive Communication Part I. U.S. Pharmacist a Jobson Publication
- (Inggris) Bettinghaus, Erwin P. Persuasive Communication (second edition)
- (Inggris) Wilcox, Dennis. Public Relations Strategies and Tactics.
Konsep-konsep
Dasar Komunikasi Persuasif
Komunikasi ada dalam segala aktivitas hidup kita. Bentuknya bisa berupa
tulisan, lisan, gambar, isyarat, kata-kata yang dicetak, simbol visual, audio visual,
rabaan, suara, kimiawi, komunikasi dengan diri sendiri, kelompok, organisasi,
antarpersona, dialogis, dan lain-lain.
Istilah komunikasi berasal dari perkataan Latin communicare, yang
berarti berpartisipasi, memberitahukan, atau menjadi milik bersama.
Dalam definisi komunikasi yang dikemukakan beberapa ahli, walaupun
pengungkapannya beragam, namun terdapat kesamaan telaah atas fenomena
komunikasi. Kesamaan tersebut nampak dalam isi yang tercakup di dalamnya, yaitu
adanya komunikator, komunikan, pesan, media/saluran, umpan balik, efek, dampak
serta adanya tujuan dan terbentuknya pengertian bersama.
Untuk memahami komunikasi, dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu
perspektif umum dan perspektif paradigmatik. Perspektif secara umum dapat
dilihat dari dua segi, yaitu pengertian secara etimologis, dan pengertian
secara terminologis.
Istilah persuasi bersumber dari perkataan Latin, persuasio, yang
berarti membujuk, mengajak atau merayu.
Persuasi bisa dilakukan secara rasional dan secara emosional. Dengan cara
rasional, komponen kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang
dipengaruhi berupa ide ataupun konsep. Persuasi yang dilakukan secara
emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan
kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati
seseorang dapat digugah.
Dari beberapa definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli,
tampak bahwa persuasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk
mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku seseorang, baik secara verbal maupun
nonverbal.
Komponen-komponen dalam persuasi meliputi bentuk dari proses komunikasi
yang dapat menimbulkan perubahan, dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar,
dilakukan secara verbal maupun nonverbal.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam komunikasi persuasi
meliputi kejelasan tujuan, memikirkan secara cermat orang-orang yang dihadapi,
serta memilih strategi yang tepat.
Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi persuasif meliputi sumber, pesan,
saluran/media, penerima, efek, umpan balik, dan konteks situasional.
Pendekatan yang digunakan dalam komunikasi persuasif adalah pendekatan
psikologis.
Tiga fungsi utama komunikasi persuasif adalah control function,
consumer protection function, dan knowledge function.
Model Proses Komunikasi Persuasif
Untuk mempermudah dalam mempelajari dan menganalisis komunikasi
persuasif, seperti halnya juga ilmu-ilmu yang lain, seringkali digunakan
berbagai model. Model adalah gambaran atau persamaan aspek-aspek tertentu dari
peristiwa-peristiwa, struktur-struktur atau sistem-sistem yang kompleks, yang
dibuat dengan menggunakan simbol-simbol atau objek-objek dengan berbagai cara
sehingga menyerupai sesuatu yang dibuat modelnya tersebut.
Model berfungsi untuk menyederhanakan realitas sosial dan alam yang
kompleks. Selain itu, ia juga, berfungsi sebagai alat pelajaran dan pengingat
yang efektif, membentuk hubungan yang baru, membantu dalam menelaah berbagai
persoalan yang kita hadapi, menemukan sesuatu dengan cara-cara yang baru, alat
kerangka berpikir dalam penelitian, menolong dalam mengantisipasi berbagai
kesulitan dan masalah pekerjaan, serta berbagai urusan yang kita hadapi.
Komunikasi persuasif adalah suatu proses, yakni proses mempengaruhi
sikap, pendapat dan perilaku orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal.
Proses itu sendiri adalah setiap gejala atau fenomena yang menunjukkan suatu
perubahan yang terus-menerus dalam konteks waktu, setiap pelaksanaan atau
perlakuan secara terus-menerus. Ada dua persoalan yang berkaitan dengan penggunaan
proses, yakni persoalan dinamika, objek, dan persoalan penggunaan bahasa.
Applebaum dan Anatol membuat model-model komunikasi persuasif, yang di
dalamnya melukiskan mekanisme persuasi antara dua orang yang sedang terlibat
komunikasi.
Simons, secara terperinci menguraikan model-model komunikasi persuasif.
Model-model tersebut meliputi model sederhana komunikasi persuasif dan model
kompleks komunikasi persuasif. Model kompleks terdiri atas Model Dua Penerima
atau Lebih, Model Dua Pesan atau Lebih, Model Dua Sumber atau Lebih, Model
Pengaruh Timbal Balik, Model Pengaruh Timbal Balik melalui Saluran Delegatif,
dan Model Penggunaan Medium Tidak Langsung.
Unsur-unsur dalam Komunikasi Persuasif
Menurut Aristoteles, komunikasi dibangun oleh tiga unsur yang
fundamental, yakni orang yang berbicara, materi pembicaraan yang dihasilkannya,
dan orang yang mendengarkannya. Aspek yang pertama disebut komunikator atau
persuader, yang merupakan sumber komunikasi, aspek yang kedua adalah pesan, dan
aspek yang ketiga disebut komunikan atau persuadee, yang merupakan penerima
komunikasi.
Persuader adalah orang dan atau sekelompok orang yang menyampaikan
pesan dengan tujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat, dan perilaku orang lain
baik secara verbal maupun nonverbal. Dalam komunikasi persuasif, eksistensi
persuader benar-benar diper-taruhkan. Oleh karena itu, ia harus memiliki ethos
yang tinggi. Ethos adalah nilai diri seseorang yang merupakan paduan dan aspek
kognisi, afeksi, dan konasi.
Seorang persuader yang memiliki ethos tinggi, dicirikan oleh kesiapan,
kesungguhan, ketulusan, kepercayaan, ketenangan, keramah-an, dan kesederhanaan.
Jika komunikasi persuasif ingin berhasil seorang persuader harus memiliki sikap
reseptif, selektif, digestif, asimilatif, dan transitif.
Persuadee adalah orang dan atau sekelompok orang yang menjadi tujuan
pesan itu disampaikan dan disalurkan oleh persuader baik secara verbal maupun
nonverbal.
Variabel kepribadian dan ego yang rumit merupakan dua kelompok konsep
yang berpengaruh terhadap penerimaan persuadee terhadap komunikasi, termasuk
juga faktor persepsi dan pengalaman.
Pesan adalah segala sesuatu yang memberikan pengertian kepada penerima.
Pesan bisa berbentuk verbal dan nonverbal. Pesan verbal terdiri dari pesan
verbal yang disengaja dan tak disengaja. Pesan nonverbal juga terdiri atas
pesan nonverbal disengaja dan tak disengaja.
Saluran merupakan perantara, di antara orang-orang yang berkomunikasi.
Bentuk saluran tergantung pada jenis komunikasi yang dilakukan.
Umpan balik adalah balasan atas perilaku yang diperbuat, umpan balik
bisa berbentuk internal dan eksternal. Umpan balik internal adalah reaksi
persuader atas pesan yang disampaikannya. Umpan balik eksternal adalah reaksi
penerima (persuadee) atas pesan yang disampaikannya. Umpan balik eksternal bisa
bersifat langsung, dapat pula tidak langsung.
Efek komunikasi persuasif adalah perubahan yang terjadi pada diri
persuader sebagai akibat dan diterimanya pesan melalui proses komunikasi, efek
yang bisa terjadi berbentuk perubahan sikap pendapat dan tingkah laku.
Lingkungan komunikasi persuasif adalah konteks situasional di mana
proses komunikasi persuasif ini terjadi. Hal itu bisa berupa konteks historis,
konteks fisik temporal, kejadian-kejadian kontemporer, impending events dan
norma-norma sosiokultural.
Konsep Dasar Sikap
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa
dalam menghadapi objek, ide, situasi, dan nilai, mempunyai daya pendorong atau
motivasi, relatif menetap, mengandung aspek evaluatif, dan sikap timbul dari
hasil pengalaman.
Karakteristik sikap adalah memiliki objek, memiliki arah, derajat, dan
intensitas, dapat dipelajari, dan bersifat stabil serta tahan lama.
Ada tiga komponen sikap, yakni komponen kognitif, afektif, dan konatif
atau psikomotor. Komponen kognitif berkaitan dengan kepercayaan tentang objek,
ide dan konsep. Komponen afektif berkaitan dengan perasaan yang menyangkut
aspek emosional. Komponen konatif merupakan kecenderungan seseorang untuk
berperilaku.
Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi harus
ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup. Ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi pembentukan sikap seseorang, yakni pengaruh
faal, kepribadian, dan faktor eksternal. Pengaruh faal berkaitan dengan aspek
biologis seseorang, sedangkan faktor kepribadian menyangkut perpaduan antara
mental dan neural. Pengaruh eksternal berkaitan dengan faktor lingkungan, baik
berupa situasi, pengalaman maupun hambatan untuk terbentuknya sikap.
Sikap merupakan aspek yang sangat strategis dalam kajian persuasi.
Konsep sikap sangat bermanfaat bagi persuader dalam memprediksi sikap persuadee
sehingga ia dapat melakukan komunikasinya secara efektif.
Pendekatan Teori Belajar dalam Komunikasi Persuasif
Classical Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang memungkinkan
organisme memberikan respon terhadap suatu rangsangan yang sebelumnya tidak
menimbulkan respon tersebut.
Unsur-unsur Classical Conditioning meliputi Unconditional stimulus,
unconditional respons, dan conditioned stimulus. Konsep tersebut berkaitan
dengan tahap-tahap penelitian Pavlov, yang terdiri dari tahap latihan,
terbentuknya pelaziman, reinforce, dan spontaneous recovery.
Operant Conditioning adalah penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku individu.
Throndike merumuskan konsep belajar, dengan prinsip utamanya yang
terkenal law of effect. Skinner mengembangkan law of effect dari Thorndike
dengan menambahkan unsur reinforcement atau penguatan.
Ada lima konsep yang berkaitan dengan jadwal penguatan dan pengaruhnya
terhadap taraf respon dan taraf penghapusan, yakni penguatan kontinu, penguatan
rasio-tetap, penguatan selang-tetap, penguatan rasio-berubah, dan penguatan
selang-berubah.
Skinner membedakan tingkah laku menjadi dua jenis, yakni tingkah laku
responden dan tingkah laku operant.
McGuire mengembangkan teori inokulasi (theory of inoculation) dengan
menganalogikan proses penggunaan imunisasi untuk jenis penyakit tertentu.
Melalui pendekatan inokulasi, seseorang akan menolak persuasi dengan
cara mempertahankan posisinya, sehingga ia menjadi tidak peka terhadap
pesan-pesan persuasi yang datang dari orang lain.
Persuasi dapat dipandang sebagai suatu cara belajar. Manusia dapat
belajar tentang fenomena-fenomena yang ada di hadapannya. Manusia dapat
mengubah respon yang berkaitan dengan sikapnya. Belajar persuasi merupakan
suatu gabungan produk pesan yang diterima individu dan mengantarai berbagai
kekuatan di dalam individu yang bertindak berdasarkan pesan-pesan tersebut agar
menghasilkan pesan-pesan persuasif.
Pendekatan Teori Konsistensi Kognitif, Teori Social Judgment, dan Teori
Fungsional dalam Komunikasi Persuasif
Asumsi dasar Teori Konsistensi Kognitif adalah bahwa kognisi (perasaan,
kepercayaan, pikiran, imajinasi, dan lain-lain) tentang orang atau kejadian
cenderung diorganisasikan atau distrukturkan ke dalam pengertian secara
keseluruhan.
Asumsi dasar Teori Congruity adalah apabila ada suatu perubahan
evaluasi atau sikap, maka arah perubahan itu selalu menuju pada persamaan atau
harmoni dengan frame of reference yang dimenangkan atau diatasi.
Apabila antara komponen kognitif dan komponen afektif bersifat
konsisten satu sama lain, maka sikap seseorang akan berada dalam kondisi yang
stabil. Sebaliknya, jika menunjukkan ketidakkonsistenan, maka sikap orang
berada dalam kondisi labil. Kondisi labil akan membawa pada aktivitas
reorganisasi yang spontan menuju pada kondisi tercapainya konsistensi
afektif-kognitif atau menempatkan inkonsistensi yang tidak terselesaikan
tersebut di luar batas kesadaran aktif.
Teori Disonansi Kognitif membahas tentang ketidakkonsistenan secara
psikologis mengenai apa yang diketahui seseorang, bagaimana mereka bertindak,
serta bagaimana mereka memperlakukan ketidak-konsistenan tersebut.
Asumsi dasar Teori Social Judgment adalah bahwa orang membentuk situasi
yang penting buat dirinya, dan tidak ditentukan oleh situasi. Teori tersebut
memfokuskan dirinya dalam mempelajari proses psikologik yang mendasari
pernyataan sikap dan perubahan sikap melalui komunikasi. Konsep utama Teori
Social Judgment adalah pembentukan skala penilaian, norma-norma, penolakan,
penerimaan, serta wilayah dari tingkat menerima atau menolak.
Ada tiga faktor yang dapat digunakan untuk mengubah pertahanan diri, yaitu
penghilangan ancaman, katarsis, dan membantu individu dalam memperoleh wawasan
dalam pertahanan mekanisme dirinya.
Nilai ekspresif berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan
refleksi dari nurani manusia. Dalam fungsi ini, sikap merupakan “layar” bagi
segala ungkapan diri individu yang dapat dibaca dan dilihat.
Melalui fungsi ekspresi nilai, individu dapat mengembangkan sikap
tertentu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan nilai yang dianutnya,
sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep dirinya.
Sikap dapat berfungsi sebagai penerima objek dan ilmu pengetahuan serta
dapat memberikan arti dan makna terhadap objek tertentu. Sikap dapat berfungsi
sebagai alat evaluasi terhadap fenomena yang ada dan melalui sikap tersebut,
diorganisasikan.
Komunikasi dapat mendekatkan sikap individu dengan sikap individu
lainnya, dan bisa pula menjauhkannya. Hal ini tergantung pada posisi awal
individu tersebut dengan individu yang lainnya. Strategi komunikasi persuasi
yang baik, tidak bisa dikembangkan sampai seseorang mengetahui apakah sikap
tertentu yang dilakukan oleh seorang persuadee membantu dalam penyesuaian,
pertahanan ego, pengekspresian nilai, dan sebuah fungsi pengetahuan.
Dasar dari teori fungsional adalah perubahan sikap seseorang tergantung
pada kebutuhannya.
Fungsi utilitarian menyatakan bahwa individu dengan sikapnya, berusaha
untuk memaksimalkan hal-hal yang diinginkan dan meminimalkan aspek-aspek yang
tidak disukainya.
Fungsi pertahanan ego berarti bahwa sikap yang dibentuk oleh individu,
digunakan untuk melindungi dirinya dari ancaman dunia luar.
Ada tiga faktor yang dapat digunakan untuk mengubah pertahanan diri,
yaitu penghilangan ancaman, katarsis, dan membantu individu dalam memperoleh
wawasan dalam pertahanan mekanisme dirinya.
Nilai ekspresif berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan
refleksi dari nurani manusia. Dalam fungsi ini, sikap merupakan “layar” bagi
segala ungkapan diri individu yang dapat dibaca dan dilihat.
Melalui fungsi ekspresi nilai, individu dapat mengembangkan sikap
tertentu untuk memperoleh kepuasan dalam menyatakan nilai yang dianutnya,
sesuai dengan penilaian pribadi dan konsep dirinya.
Sikap dapat berfungsi sebagai penerima objek dan ilmu pengetahuan serta
dapat memberikan arti dan makna terhadap objek tertentu. Sikap dapat berfungsi
sebagai alat evaluasi terhadap fenomena yang ada dan melalui sikap tersebut
diorganisasikan.
Strategi komunikasi persuasi yang baik, tidak bisa dikembangkan sampai
seseorang mengetahui apakah sikap tertentu yang dilakukan oleh seorang
persuadee membantu dalam penyesuaian terhadap pertahanan ego, pengekspresian
nilai, dan sebuah fungsi pengetahuan.
Prinsip-prinsip Kredibilitas
Kredibilitas adalah persepsi persuadee tentang diri persuader yang
berkaitan dengan tingkat keahlian, dapat dipercaya, kompetensi, dinamisme,
sosiabilitas, dan karismatik. Secara garis besar, komponen kredibilitas terdiri
atas keahlian dan dapat dipercaya. Namun demikian ada beberapa komponen lain
yang masih terkait, yakni rasa aman, kualifikasi, dinamisme, dan sosiabilitas.
Keahlian merupakan kesan yang dibentuk persuadee tentang sumber
komunikasi persuasif berkaitan dengan topik yang dibicarakan. Dapat dipercaya
adalah kesan yang dibentuk persuadee tentang sumber komunikasi persuasif
berkaitan dengan wataknya, seperti kejujuran, ketulusan, kebermoralan, bersifat
adil, bersikap sopan, berperilaku etis, atau sebaliknya.
Untuk memprediksi
penilaian persuadee terhadap tingkat dapat dipercaya si persuader, dapat
dilakukan dengan analisis atribusional, yakni penilaian yang didasarkan pada
pertalian dengan alasan pernyataan persuader. Dalam analisis atribusional
terdapat tiga pertalian, yakni, apa yang dikemukakan merefleksikan kebenaran,
bias pengetahuan, dan bias pernyataan.
Kredibilitas
sumber komunikasi persuasif dapat diukur dengan mengembangkan konstruk semantic
differential (perbedaan semantik). Sifat bipolar dalam semantic differential
mencakup tiga sifat, yakni evaluasi, potensi, dan kegiatan.
Pengaruh
kredibilitas sumber pada penerima, dalam jangka waktu yang lama akan memudar.
Keadaan demikian disebut dengan sleeper effect. Saluran komunikasi yang
dirancang dengan baik dan disajikan dengan tepat, ternyata dapat meningkatkan
kredibilitas sumber.
Faktor-faktor
vokalik, seperti nilai pembicaraan, variasi titinada, kualitas vokal, dan
artikulasi dapat berpengaruh terhadap kredibilitas sumber. Hal ini akan dilihat
dari nonfluencies yang terdiri atas vocalized pause, repetition, sentence
corrections, stuttering, dan slip-tongue correction. Self reference dan prestige
reference merupakan dua aspek yang berkaitan dengan artistic proof. Kedua aspek
tersebut sangat penting untuk meningkatkan kredibilitas.
Prinsip Kesamaan dan Identifikasi Persuader
Identifikasi merupakan konsep psikologi yang berkaitan dengan cara-cara
yang dilakukan oleh individu dalam mengatasi konflik, frustrasi, serta berbagai
kecemasan yang dihadapinya. Pada mulanya, konsep identifikasi dikemukakan oleh
Sigmund Freud untuk menjelaskan konsep peran kelamin anak-anak (sex-role
identification).
Dalam proses identifikasi, peniruan yang dilakukan oleh individu
terhadap sesuatu objek bersifat mantap dan membekas dalam kepribadian
seseorang. Identifikasi didefinisikan sebagai pengenalan, verifikasi pada orang
tertentu, tindakan atau proses yang menanggapi suatu keadaan yang diperkirakan
atau dianggap seakan-akan sama yang pernah dialami sebelumnya, tindakan atau
proses menghubungkan atau menyesuaikan diri dengan orang, kelompok atau
nilai-nilai yang diterima dan maksud-maksud orang lain terhadap dirinya.
Untuk mempersuasi, sumber komunikasi persuasi melakukan manipulasi
bahasa dengan berbagai cara, sehingga ia memperoleh isyarat kebersamaan antara
sumber dan penerima.
Faktor kesamaan atau kemiripan merupakan dasar daya tarik untuk semua
jenis hubungan antarmanusia, termasuk komunikasi persuasif. Dalam batas-batas
tertentu, semakin mirip pihak-pihak yang berkomunikasi, maka akan semakin
efektif pula komunikasi di antara mereka.
Kesamaan memegang peranan penting bagi hubungan antarmanusia, karena
dapat mendatangkan ganjaran dan mempertahankan keseimbangan sikap. Terdapat
empat tipe dasar tentang kesamaan sumber penerima, yaitu relevansi, tidak
relevan, sikap, dan keanggotaan kelompok.
Atraksi, sangat memainkan peranan yang lebih besar dalam penilaian
terhadap sumber daripada keahlian dan kehandalan. Kesamaan yang relevan
memberikan kontribusi terhadap perubahan sikap dan keadaan sebaliknya terjadi
pada kesamaan yang tidak relevan.
Penerima mempunyai dua tugas yakni menilai pesan-pesan yang disampaikan
sumber dan menilai posisi yang mendukung topik pembicaraan. Penilaian terhadap
sumber melibatkan determinasi kelayakan sumber yang khusus untuk pesan yang
khusus.
Faktor-faktor Pesan dalam Komunikasi Persuasif
Menurut Blake dan Haroldsen (1979) pesan merupakan simbol yang
diarahkan secara selektif yang diperuntukkan dalam mengkomuni-kasikan
informasi. Dalam proses komunikasi, pesan yang disampaikan dapat berupa verbal
dapat pula nonverbal. Dapat disengaja (intentional), dapat pula tak disengaja
(unintentional). Pesan verbal merupakan salah satu faktor yang paling
menentukan dalam keberhasilan komunikasi persuasif. Di dalamnya terdapat aspek
rangsangan wicara dan penggunaan kata-kata.
Tidak setiap rangsangan wicara dapat diterima langsung oleh sasaran,
paling tidak hal ini tergantung pada sistem penginderaan, persepsi, perhatian,
memori, dan berpikir.
Pesan nonverbal terdiri atas body notion or kinesics behavior,
paralanguage, proxemics, olfaction, skin sensitivity to touch and temperatur,
dan use the artifacts. Suatu pesan dikatakan efektif bila makna pesan yang
dikirim persuader berkaitan erat dengan makna pesan yang diterima atau
ditangkap serta dipahami oleh sasaran.
Bahasa dan Makna dalam Komunikasi Persuasif
Pesan merupakan hasil dari usaha manusia di dalam menyandikan
gagasan-gagasannya. Arti atau makna tidak ada di dalam pesan. Arti bukanlah
sesuatu yang didapatkan. Arti ada di dalam diri orang, dan merupakan respon
yang tidak tampak. Kita memperoleh “arti” dari dunia pada awalnya berdasarkan
proses “pembiasaan” atau conditioning. Kita memperoleh “arti” dari pengalaman
kita.
Tiga prinsip hipotesis berperantara (mediation hypotesis) mengemukakan
bahwa kita cenderung memisahkan (a) respon yang tidak menuntut banyak usaha
atau tenaga, (b) respon yang tidak menghambat respon yang kita buat untuk
stimulus distal pada permulaannya, dan (c) respon yang dapat membedakan
stimulus tersebut dari stimulus lainnya. Arti denotatif menyatakan suatu
hubungan, yang memerlukan hadirnya baik tanda kata maupun bendanya. Jadi arti
denotatif dapat ditunjukkan dengan mengacu pada objek yang dimaksudkan. Kawasan
arti denotatif adalah realitas fisik.
Arti struktural dapat diperoleh ketika suatu tanda (simbol) kata
membantu kita untuk meramalkan tanda-tanda lain atau bilamana urutan dari dua
tanda kata menceritakan sesuatu mengenai hubungannya yang tidak diperoleh dari
masing-masing kata itu sendiri. Arti struktural adalah suatu hubungan antara
tanda dengan tanda. Adapun arti kontekstual bersifat “cangkokan” dan melalui
arti ini kita akan memperoleh kejelasan tentang istilah-istilah tertentu yang
sebenarnya belum kita ketahui artinya. Sementara itu, arti konotatif merupakan
hubungan antara suatu tanda dengan suatu objek. Hal itu melibatkan lebih dari
sekadar pelibatan orang-orang pada arti yang lain.
Hipotesis Sapir-Whorf mengatakan bahwa dunia ini dipersepsi secara
berbeda oleh para anggota komunitas linguistik yang berlainan dan persepsi ini
ditransmisikan serta dipertahankan oleh bahasa. Penggunaan bahasa yang tidak
tepat dapat mengganggu proses berpikir seseorang. Beberapa di antaranya yang
dapat langsung mengganggu komunikasi antara lain bahasa abstrak, inferensi,
dikotomi, eufimisme, dan bahasa ekuivokal.
Isi Pesan Persuasif
Terdapat tiga
tujuan pesan komunikasi persuasif, yaitu :
(1) membentuk tanggapan,
(2) memperkuat
tanggapan, dan
(3) mengubah tanggapan.
Dalam proses pembentukan sikap dan tanggapan, persuader harus mampu
mempertalikan antara gagasan atau produk baru dengan nilai-nilai yang telah
melekat dalam sistem masyarakat atau sasaran. Penguatan tanggapan adalah
terdapatnya kesinambungan perilaku yang sedang berlangsung saat ini terhadap
beberapa produk, gagasan dan isu. Pengubahan tanggapan adalah perubahan
tanggapan sasaran persuasi untuk mengubah perilaku mereka terhadap suatu
produk, konsep atau gagasan.
Dalam komunikasi
persuasif, menggayakan pesan merupakan aspek yang penting karena dapat
“membungkus” pesan menjadi lebih menarik dan enak di “konsumsi”. Seorang
persuader harus memiliki gaya perolehan perhatian yang mengesankan, yang dapat
diperoleh dengan cara penggunaan bahasa yang jelas, luas dan tepat. Bahasa yang
efektif mengandung tiga unsur, yaitu kejelasan, kelugasan, dan ketepatan.
Agar komunikasi persuasif berfungsi dengan baik dan efektif, maka dalam
penyampaian pesan-pesan persuasi harus disertai dengan gaya yang mengesankan,
menawan, dan tidak membosankan. Untuk itu, ada tujuh teknik yang bisa
digunakan, yaitu omisi, inversi, suspensi, antitesis, repetisi, paralelisme,
dan aliterasi.
Daya guna pesan persuasif dapat dilihat dari fungsi pesan itu sebagai :
(1) isyarat yang disampaikan,
(2) bentuk struktural,
(3) pengaruh sosial,
(4) penafsiran,
(5) refleksi diri, dan
(6) kebersamaan.
Efek Komunikasi Tatap Muka sebagai Saluran
dalam Komunikasi Persuasif
Saluran komunikasi adalah media yang digunakan untuk membawa pesan. Hal
ini berarti bahwa saluran merupakan jalan atau alat untuk perjalanan pesan
antara komunikator (sumber atau pengirim) dengan komunikan (penerima). Saluran
memiliki tujuh dimensi yang memungkinkan untuk mengevaluasi efektivitas saluran
yang berbeda. Dimensi-dimensi tersebut adalah kredibilitas saluran, umpan balik
saluran, keterlibatan saluran, tersedianya saluran, daya tahan saluran,
kekuatan multiguna saluran, dan kesalingmelengkapi saluran.
Komunikasi tatap muka berlangsung manakala persuader dan persuadee
saling berhadapan muka, dan di antara mereka dapat saling melihat. Komunikasi
tatap muka disebut pula komunikasi langsung (direct communication). Berdasarkan
jumlah komunikan yang dihadapi komunikator, komunikasi tatap muka dapat
diklasifikasi menjadi dua jenis, yakni komunikasi interpersonal dan komunikasi
kelompok.
Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi langsung antara dua orang
atau lebih secara fisik, yang semua indera berfungsi, dan umpan balik dapat
secara langsung dilakukan.
Komunikasi persuasif dalam komunikasi tatap muka memiliki variasi
situasi komunikasi. Paling tidak ada empat variasi situasi, yakni:
definition physical interdependence;
action-reaction interdependence;
interdependence of expectations empathy;
interaction.
definition physical interdependence;
action-reaction interdependence;
interdependence of expectations empathy;
interaction.
Efek Interaksi Kelompok sebagai Saluran dalam Komunikasi Persuasif
Sejarah membuktikan bahwa manusia pada dasarnya cenderung untuk
berkelompok. Manusia tidak bisa hidup secara individual. Ia selalu membutuhkan
kehadiran orang lain. Dalam suatu kelompok, paling tidak, terdapat tiga aspek,
yakni kegiatan, interaksi, dan perasaan (sentiment). Konsep kelompok dapat
dikaji dari berbagai aspek, seperti aspek persepsi, motivasi, tujuan,
organisasi, interdependensi, dan interaksi. Dalam suatu kelompok, akan dijumpai
berbagai proses, seperti persepsi, kebutuhan, interaksi, sosialisasi, struktur
kelompok, dan adanya periode waktu tertentu.
Interaksi di dalam kelompok menimbulkan suatu energi yang membawa
kelompok itu menjadi dinamis. Penggunaan energi kelompok dipengaruhi oleh group
syntality atau kepribadian kelompok. Interaksi di dalam kelompok dapat
membentuk variasi pola kelompok. Kelompok tersebut dapat berupa kooperatif,
kompetisi, konflik, dan kelompok akomodasi. Afiliasi kelompok berperan penting
dalam membentuk sikap, yang dapat mengapresiasikan sejumlah faktor penting,
seperti hubungan kelompok primer, tekanan konformitas dari kelompok, hasrat
untuk berbagi pengalaman dan informasi, serta kecenderungan dalam mengkaji
siapa yang paling respek di antara anggota kelompok.
Referensi group adalah seseorang dalam setiap kelompok melakukan
referensi atasnya. Seseorang menggunakan kelompoknya untuk mengukur dirinya,
dan sebagai sumber bagi nilai-nilai sikap pribadinya. Ada dua fungsi kelompok
referensi, yakni fungsi perbandingan sosial dan fungsi pengesahan sosial.
Sementara itu, efek persuasi dalam interaksi kelompok dapat dilihat
dari dua aspek, yakni kepaduan (cohesiveness) dan konformitas (conformity).
Efek Media Massa dalam Komunikasi Persuasif
Pengertian media massa seringkali ditujukan pada peralatan teknik, yang
digunakan dalam komunikasi massa. Jenis media massa bisa berupa media cetak,
bisa pula elektronik.
Keberadaan media
massa membutuhkan dua perkembangan, yakni:
adanya teknologi yang relatif maju; melek huruf pada sebagian masyarakat yang memanfaatkan informasi.
adanya teknologi yang relatif maju; melek huruf pada sebagian masyarakat yang memanfaatkan informasi.
Semakin tinggi status ekonomi seseorang, dan semakin besar komunitas di
mana seseorang tinggal, maka semakin besar kemungkinannya ia menjadi pembaca
surat kabar yang teratur. Media cetak mempengaruhi pembacanya untuk bertindak,
ternyata lebih kuat jika dibandingkan dengan media elektronik. Televisi dapat
mempengaruhi eksistensi suatu kebudayaan, medium untuk mentransmi-sikan
pengalaman, mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan audiens,
meningkatkan status sosial pemiliknya, berpengaruh terhadap penjadwalan
kegiatan sehari-hari, dan menghilangkan perasaan serta menumbuhkan perasaan
tertentu. Televisi pun dapat menimbulkan displacement effects, yang terdiri
dari tiga prinsip, yakni kesamaan fungsional, kegiatan yang diubah, dan
kegiatan yang marjinal.
Proses persuasi dalam TV merupakan suatu mekanisme proses belajar. Hal
ini berkaitan dengan motivasi audiens. Radio, yang sifat khasnya auditif dapat
mempengaruhi audiens dalam aspek kognitif, karena melalui radio, pengetahuan
kita akan berubah.
Pengaruh media massa terhadap perilaku manusia banyak menarik minat
peneliti komunikasi. Penelitian-penelitian tersebut telah menghasilkan banyak teori
di antaranya The Bullet Theory, The Limited-Effects Model, Cultivation Theory,
McLuhan’s Media Determinism, The Effect of Synthetic Experience, The Spiral
Silence, Media Hegemony, The Powerful Effects-Model, dan lain-lain.
Teori-teori efek media massa yang ada, sering kali menunjukkan
pertentangan yang cukup ekstrim. Di satu sisi mengatakan bahwa media massa itu
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aspek perilaku manusia, di
sisi lain, justru tidak berdampak apapun.
Joseph Klapper berdasarkan hasil penelitiannya, ternyata mampu
menjembatani pertentangan teori yang ada. Menurutnya, media massa berfungsi
sebagai variabel antara untuk terjadinya perubahan perilaku manusia.
Prinsip Aktualisasi Diri
Diri atau self adalah suatu susunan konsep hipotetik yang merujuk pada
perangkat yang kompleks dari karakteristik proses fisik, perilaku dan kejiwaan
seseorang. Dimensi diri (self) terdiri dari lima aspek, yakni fisik diri, diri
sebagai proses, diri sosial, konsep diri, dan citra diri.
Bagian masing-masing diri, satu sama lain saling tergantung, saling
tumpang-tindih dan saling berkaitan. Proses penyesuaian diri yang kita lakukan
merupakan bagian dari suatu konsep yang disebut Manajemen Kesan, yakni
kebiasaan seseorang untuk menyesuaikan kata-kata dan perilakunya sedemikian
rupa sehingga menghasilkan kesan yang diinginkannya dari orang-orang di
sekitarnya, untuk membuat orang lain menyukai, menghargai, menghormati, atau
apa saja yang diinginkan orang itu. Membentuk diri membutuhkan serangkaian proses,
artinya hal itu berjalan terus-menerus tanpa henti dan tidak bersifat statis.
Konsep diri (self concept) merupakan pandangan dan perasaan kita
tentang diri kita, yang bersifat psikologis, sosial dan fisik. Penghargaan
mengenai diri kita masing-masing menentukan sampai batas tertentu bagaimana
kita akan bertindak dalam hidup. Bila kita berpikir bahwa kita bisa, maka kita
cenderung sukses, sebaliknya bila kita berpikir akan gagal, maka sebenarnya
kita telah menyiapkan diri untuk gagal. Jadi konsep diri merupakan ramalan yang
dipersiapkan untuk diri sendiri.
Dalam konsep diri terkandung dua aspek, yakni citra diri (self image)
dan harga diri (self esteem). Konsep diri terdiri dari tiga dimensi, yakni
pengetahuan Anda tentang Anda sendiri, pengharapan Anda mengenai diri Anda,
penilaian tentang diri Anda sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri terdiri dari reaksi orang
lain, perbandingan dengan orang lain, peranan seseorang dan identifikasi
terhadap orang lain. Aktualisasi diri adalah suatu ekspresi yang bebas dan
sempurna dari kemampuan dasar dan kemampuan taraf berikutnya, yang telah
dimiliki seseorang. Ada dua macam dorongan untuk aktualisasi diri, yakni
dorongan untuk mendapatkan kebutuhan positive regard dan dorongan untuk
mendapatkan kebutuhan self regard.
Ada 15 karakteristik pribadi yang telah beraktualisasi diri, yakni
penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, persepsi yang akurat tentang
kenyataan, keakraban dengan orang lain, otonomi pribadi, memusatkan diri
sendiri pada masalah, spontanitas, privasi, kemandirian dari lingkungan dan
kebudayaan, kesegaran dan apresiasi, pengalaman mistik, minat sosial, rasa
humor yang filosofis, berkarakter demokratis, kreativitas, pemikiran yang
jernih tentang yang salah dan benar, dan keterbukaan pada pengalaman.
Manusia secara tidak sadar menggunakan penyimpangan-penyimpangan
kenyataan untuk melindungi dirinya dari kecemasan yang datang karena mengetahui
adanya satu motif dasar yang muncul. Penyimpangan kenyataan ini disebut
mekanisme pertahanan diri.
Bentuk-bentuk mekanisme pertahanan diri terdiri dari proyeksi, regresi,
represi, reaksi formasi, intelektualisasi, rasionalisasi, dan sublimasi. Efek
komunikasi persuasi ternyata berkorelasi dengan harga diri dan konsep diri
seseorang. Pengenalan terhadap aspek-aspek kepribadian persuadee sangat penting
dalam upaya menyusun strategi komunikasi.
Penerima dan Pengaruh Komunikasi Persuasi
Persuadee sebelum melakukan perubahan dirinya, sebenarnya melakukan
suatu aktivitas yang fundamental, aktivitas yang sifatnya intern, di dalam
diri, yakni belajar.
Belajar biasanya tidak hanya merupakan suatu proses sesaat. Setiap
persuadee, menerima stimulus, menafsirkan, memberikan respon, mengamati akibat
respon, menafsirkan kembali, memberikan respon baru, menafsirkan dan
seterusnya. Hal ini dilakukan terus-menerus, sehingga persuadee mendapat
kebiasaan memberikan respon dalam suatu cara tertentu terhadap suatu stimulus
tertentu.
Ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan kekuatan kebiasaan,
yakni (1) sering terjadi pengulangan respon yang mendapatkan ganjaran, (2)
isolasi hubungan stimulus-respon, (3) jumlah ganjaran, (4) waktu antara respon
dan ganjaran, dan (5) usaha yang dikehendaki untuk melakukan respon.
Persuadee tidak akan memberikan respon kecuali jika ia mengharap bahwa
responnya akan menguntungkan. Pemahaman tentang konsep ganjaran, dapat dikaji
melalui pemikiran Dewey tentang self interest.
Konsep pengaruh berawal dari asumsi yang dikemukakan oleh teori tentang
tingkah laku manusia, yang menyatakan bahwa manusia bertindak di bawah
ketegangan fisiologis karena adanya ambiguitas, dan ketiadaan bentuk, sehingga
dengan demikian keinginannya untuk mempengaruhi adalah suatu keinginan untuk
mengurangi ketegangannya sendiri, dengan mengurangi ambiguitas atau dengan
mengurangi ketidakpastian tentang hakikat lingkungannya.
Secara fisiologis, indera keseimbangan memungkinkan persuadee untuk
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisiknya. Secara psikologis, indera
tersebut dapat menghasilkan keinginan untuk ketetapan struktur dalam
pengamatannya. Akibat suatu respon tidak selamanya bersifat positif. Respon
yang sama dapat pula menghasilkan akibat yang negatif.
Sikap dapat mempunyai fungsi yang berbeda bagi setiap individu. Paling
tidak ada tiga fungsi sikap, yakni (1) fungsi pengetahuan, (2) fungsi ekspresi,
dan (3) fungsi peningkatan harga diri.
Pengaruh komunikasi persuasif atas perubahan perilaku persuadee dapat
dilihat dari dua pendekatan, yakni pendekatan tradisional dan pendekatan teori
kognitif.
Persuasibilitas dapat diartikan sebagai kerentanan audiens terhadap
pesan persuasi yang diterimanya. Istilah lain untuk persuasibilitas adalah
communication-free persuasibility atau communication-bound persuasi-bility.
Menurut Simons, terdapat banyak faktor yang berkaitan dengan persuasibilitas,
di antaranya (1) usia dan jenis kelamin, (2) inteligensia dan tingkat
pendidikan, (3) harga diri, (4) autoritarianisme dan dogmatisme, (5) struktur
sikap, (6) kejelasan kognitif, dan (7) penghin-daran-peniruan.
Teknik-teknik Komunikasi
Persuasif
Untuk menguasai teknik persuasi, faktor-faktor yang diperlukan antara
lain sebagai berikut. (1) Mampu berpikir dalam kerangka acuan yang lebih besar
untuk penggunaan teknik yang tepat dalam suatu keadaan tertentu. (2) Mampu
menegakkan kredibilitas. (3) Mampu berempati. (4) Mampu menunjukkan perbedaan
dengan sasaran. (5) Mampu mengetahui saat-saat yang tepat untuk menggiring
audiens pada pesan yang diberikan. (6) Mampu mengetahui kapan alat bantu
komunikasi digunakan, dan lain-lain.
Persuasi merupakan tindakan memanipulasi simbol untuk menghasilkan
perubahan melalui “tingkah laku evaluatif” dan “tingkah laku
pendekatan-penghindaran” atau “sikap”.
William S. Howell mengetengahkan sepuluh teknik persuasi sebagai
berikut. (l) The yes-response technique. (2) Putting it up to you. (3)
Simulated disinterest. (4) Transfer. (5) Bandwagon technique. (6) Say it with
flower. (7) Don’t ask if, ask which. (8) The swap technique. (9) Reassurance.
(10) Technique of irritation.
Charles Larson mengemukakan tujuh teknik dalam komunikasi persuasi,
seperti berikut ini. (1) The Yes-yes technique. (2) Don’t ask if, ask which.
(3) Answering a question with questions. (4) Getting partial commitment. (5)
Ask more, so they settle for less. (6) Planting. (7) Getting an IOU.
Werner J. Severin dan James W. Tankard (1992) mengemukakan tiga teknik
persuasi, yakni: (1) appeals to humor, (2) appeals to sex, dan (3) extensive
repetition of an advertising message.
Strategi
Komunikasi Persuasif
Strategi adalah rencana terpilih yang bersifat teliti dan hati-hati
atau serangkaian manuver yang telah dirancang untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Dalam mempertimbangkan strategi komunikasi persuasi yang akan
diterapkan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. (1) Spesifikasi tujuan
persuasi. (2) Identifikasi kategori sasaran. (3) Perumusan strategi persuasi.
(4) Pemilihan metode persuasi yang diterapkan.
Komunikasi persuasif, paling tidak, memiliki tiga tujuan, yakni
membentuk tanggapan, memperkuat tanggapan, dan mengubah tanggapan.
Secara umum, sasaran persuasi dapat diidentifikasi berdasarkan umur,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan dalam kelompok primer, dan
minat khusus sasaran. Selain itu, dapat pula dilihat dari aspek sasaran
pedestrian, sasaran pasif dan kelompok diskusi, sasaran terpilih, sasaran
kesepakatan, dan sasaran terorganisasi.
Langkah-langkah dalam perumusan strategi komunikasi persuasif antara
lain: (1) pengumpulan dan analisis data, (2) analisis dan evaluasi fakta, (3)
identifikasi masalah, (4) pemilihan masalah yang ingin disampaikan dan
dipecahkan, (5) perumusan tujuan, (6) perumusan alternatif pemecahan masalah,
(7) penetapan cara mencapai tujuan, (8) evaluasi hasil kegiatan, dan (9)
rekonsiderasi.
Prinsip-prinsip dalam merumuskan strategi komunikasi persuasi yang
perlu diperhatikan adalah: (1) prinsip identifikasi, (2) prinsip tindakan, (3)
prinsip familiaritas dan kepercayaan, dan (4) prinsip kejelasan.
Prinsip-prinsip metode persuasi sebagai landasan untuk memilih metode
yang tepat dan baik yang perlu diperhatikan adalah (I) pengembangan untuk
berpikir kreatif, (2) persuasi dilakukan pada tempat kegiatan sasaran, (3)
setiap individu terikat pada lingkungannya, (4) harus dapat menciptakan
hubungan yang akrab dengan sasaran, dan (5) harus dapat memberikan sesuatu
untuk terjadinya perubahan.
Dalam memilih metode persuasi, ada tiga pendekatan yang bisa dilakukan,
yakni pendekatan berdasarkan media yang digunakan, sifat hubungan antara
persuader dan sasarannya serta pendekatan psikososial.
Strategi persuasi psikodinamika dipusatkan pada faktor emosional dan
atau faktor kognitif. Salah satu asumsi dasarnya adalah bahwa faktor-faktor
kognitif berpengaruh besar pada perilaku manusia. Esensinya bahwa pesan yang
efektif mampu mengubah fungsi psikologis individu dengan berbagai cara sehingga
sasaran akan merespon secara terbuka dengan bentuk perilaku seperti yang
diinginkan persuader.
Asumsi pokok dari strategi persuasi sosiokultur adalah bahwa perilaku
manusia dipengaruhi oleh kekuatan luar dirinya. Esensi strategi ini adalah
bahwa pesan harus ditentukan dalam keadaan konsensus bersama.
Asumsi dasar strategi persuasi the meaning construction adalah bahwa
pengetahuan dapat membentuk perilaku. Strategi ini dicirikan oleh
“belajar-berbuat (learn-do)”.
Hambatan dalam
Komunikasi Persuasif
Pada umumnya, hambatan komunikasi dapat diselesaikan oleh dua faktor,
yakni faktor mekanistis komunikasi manusia dan faktor psikologis. Selain itu,
hambatan tersebut dapat diselesaikan oleh dogmatisme, stereotipe, dan pengaruh
lingkaran. Kondisi itu pun dapat pula disebabkan oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal dapat berupa persepsi sosial, posisi sosial,
dan proses sosial, sedangkan faktor eksternal dapat disebabkan oleh faktor
penguatan (reinforcement) dan faktor harapan yang diinginkan.
Citra (image) persuader dalam komunikasi persuasif sangat menentukan
dalam mengubah, membentuk dan memperkuat sikap, pendapat dan perilaku sasaran
sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Citra persuader berbanding lurus dengan
kredibilitasnya.
Persuader dalam melakukan komunikasinya, akan dihadapkan pada masalah
sikap, nilai, dan kepercayaan sasaran yang bertentangan.
Sasaran yang dihadapi persuader dalam menerima pesannya tidak semata
menggunakan pikiran yang logis saja. Mereka kadangkala menggunakan perasaan,
keinginan, serta pilihan-pilihannya untuk mengambil keputusan. Mereka
kadang-kadang bersikap apatis atau skeptis.
Prosedur Umum Analisis Komunikasi Persuasif
Analisis adalah pengidentifikasian dan pemeriksaan komponen-komponen objek yang sedang dikaji. Analisis masalah komunikasi persuasi adalah pemeriksaan terhadap isi pesan, tujuan, dukungan sasaran dan konteks sosial.
Analisis adalah pengidentifikasian dan pemeriksaan komponen-komponen objek yang sedang dikaji. Analisis masalah komunikasi persuasi adalah pemeriksaan terhadap isi pesan, tujuan, dukungan sasaran dan konteks sosial.
Dalam memilih topik persuasi, karena cakupannya luas dan beragam, maka
hal-hal yang perlu dijawab adalah topik apa, dalam bentuk apa, persuasi siapa,
ditujukan kepada siapa, serta kapan persuasi itu dilakukan. Tujuan analisis
persuasi adalah untuk memperoleh informasi tentang kualitas dari pelaksanaan
komunikasi persuasif baik dalam bentuk komunikasi lisan maupun tulisan.
Metode analisis persuasi yang digunakan disesuaikan dengan tujuan
analisis yang telah ditetapkan. Metode yang dapat digunakan antara lain metode
deskriptif, eksploratif, eksplanatori, dan metode-metode khusus, seperti
message centered analysis, causal analysis, evaluative criticism, dan
theory-oriented analysis.
Untuk menganalisis masalah-masalah persuasi, dapat digunakan teknik
analisis kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis kualitatif dilakukan
dengan pembentukan serta menghubungkan kategori-kategori berdasarkan
kejadian-kejadian atau pengamatan. Berdasarkan hubungan kategori yang terjadi,
maka dibuat hipotesis-hipotesis tentang kategori-kategori yang dihubungkan,
memunculkan teori berdasarkan hubungan hipotesis yang diperoleh. Teknik
analisis kuantitatif dilakukan dengan cara menggunakan tes statistik yang
relevan.
Untuk menganalisis presentasi persuasif sendiri, dapat dilakukan dengan
cara memeriksa komponen-komponen tujuan, sasaran, materi dukungan, pemikiran,
pola organisasi, bahasa, dan alat bantu multimedia.
Penulisan hasil analisis persuasi pada prinsipnya sama seperti
penulisan karya ilmiah lainnya, yang mencakup judul analisis, pendahuluan yang
berisi latar belakang, rumusan dan identifikasi, tujuan analisis, kegunaan,
tinjauan pustaka, metode analisis yang memuat metode, operasionalisasi
variabel, validitas dan reliabilitas alat ukur, populasi dan teknik sampling,
teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data, hasil analisis dan
pembahasan, serta simpulan dan rekomendasi.
Prosedur Umum Analisis Komunikasi Persuasif
Tujuan analisis komunikasi persuasif periklanan adalah untuk melakukan
pengidentifikasian dan pemeriksaan terhadap pesan, isi, tujuan dukungan, dan
konteks sosial dari suatu iklan.
Merk dagang, kemasan, slogan, promosi, dan bentuk-bentuk pesan
merupakan konsep-konsep utama dalam periklanan. Analisis komunikasi persuasi
periklanan dapat diklasifikasi menjadi dua bagian, yaitu analisis identifikasi
masalah dan analisis untuk pemecahan masalah.
Proses analisis komunikasi untuk periklanan adalah serangkaian kegiatan
atau tahap yang dilakukan dalam melaksanakan analisis komunikasi persuasif
periklanan. Masalah-masalah komunikasi persuasif periklanan dapat berasal dari
sumber, saluran, pesan, media, sasaran, lingkungan sosial budaya, serta efek
dan dampak periklanan.
Untuk memperoleh kerangka pemikiran yang jelas dan menyeluruh, maka
diperlukan dukungan kerangka teoretis yang dapat menjelaskan semua pengertian
dan definisi. Rancangan analisis merupakan kerangka untuk melaksanakan
analisis. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Analisis data merupakan bagian yang sangat
penting dalam analisis komunikasi persuasi periklanan karena melalui analisis
data, data yang telah dikumpulkan dapat diberi arti serta berguna untuk
menjawab pertanyaan analisis secara keseluruhan.
Sumber buku Komunikasi Persuasif Karya Soleh Soemirat, H. Hidayat Satari, Asep Suryana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar